Minggu, 20 Januari 2019

CERPEN B.INDONESIA


Samurai Sword

Pada suatu hari, lahirlah seorang anak dari keluarga sederhana. Anak yang berasal dari desa kecil dengan nama desa Iruno di negeri Jepang  yang masih sejahtera dan tentram.  Anak ini merupakan anak dari seorang pekerja keras di bagian penambang batu sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga yang pekerjaannya seperti menjadi pembantu, pencuci pakaian, dan lainnya. Kehidupan ini mereka nikmati dengan penuh keikhlasan dan tetap terus berusaha untuk menghidupi kebutuhan keluarganya. Seorang anak yang bernama Ashakura merupakan anak sulung yang dimiliki oleh seorang ibu yang bernama Siren dan seorang ayah yang bernama Detoshino. Sewaktu Ashakura masih kecil sering di ajak oleh ibunya karena tidak mungkin ia tinggalkan dirumah  sendirian sedangkan ayah bekerja di pertambangan. Keseharian Ashakura hanya menemani ibunya, namun Ashakura selalu memperhatikan setiap apa yang ibunya kerjakan hingga Ashakura berkata di dalam hatinya,”Aku akan selalu menemani dan menjagamu ibu walau harus  mengorbankan nyawa sekalipun”. Seorang yang harus menikmati kehidupan yang pahit itu jika besar nanti ia harus berjuang untuk keluarganya.
Beberapa hari kemudian, ketika Ashakura berjalan bersama ibunya menuju tempat pekerjaannya tidak disangka ada seorang perampok dengan menggunakan samurai yang ingin mengambil dompet ibunya. Sudah tidak di duga si perampok langsung berjalan menuju ibunya. “Jangan! Jangan kau ambil dompet ibuku! “ kata Ashakura, “berikan dompet itu padaku atau kau akan ku bunuh dengan samuraiku! “ kata perampok sambil mengulurkan pedangnya. Ibunya berkata,” jangan ! ini uang untuk kebutuhan hidup keluarga saya “. “Ahh aku tidak peduli jika kau tidak mau memberikannya padaku aku bunuh kau! “ kata perampok langsung menebas ibunya Ashakura”. Pedang yang hampir mengenai ibu Ashakura tertangkis oleh seorang laki laki yang bernama Kawasina yang memang memiliki bakat dan mahir dalam menggunakan samurai bersama anak laki-lakinya yang bernama Denojin. Kawasina berkata,”Jangan kau berani mengambil dompet itu apalagi dari seorang ibu yang sedang mengasuh anaknya! “. Akhirnya perampok itu langsung pergi meninggalkan tempat tersebut. Pada peristiwa ini akhirnya Ashakura dan Denojin bersahabat. Ashakura yang bisa menemani ibunya sekarang ia telah mempunyai seorang teman sekaligus ia jadikan sahabat. Suatu hari Denojin mengajak Ashakura untuk  kerumahnya. Pada saat itu Ashakura terkagum ketika melihat ayah Denojin sedang berlatih memainkan pedang samurainya itu. “Iya itu ayahku sedang berlatih.” Sambil menunjuk ke arah ayahnya. Ashakura berkata,” Hhmm.. ternyata ayahmu mahir juga dalam memainkan pedang samurainya. Apa kau juga mahir dalam memainkan pedang samurai ?”. Denojin berkata,”Iya, aku terkadang berlatih bersama ayahku. Ayahku memang pernah berbicara padaku akan mengajariku untuk memainkan samurai dan menurunkan ilmunya padaku disaat aku masih kecil seperti ini agar aku menjadi lebih mahir dari ayahku jika sudah dewasa nanti”. Ashakura berkata,"kalo begitu aku ingin belajar bersamamu dan ayahmu agar aku bisa menjaga ibuku". "Baiklah, aku akan meminta agar ayahku mengajarimu".

Dua orang sahabat berlatih setiap harinya. Mereka bertemu pada pagi hari dan pulang pada sore hari begitupun hari-hari berikutnya. Ashakura yang awalnya tidak bisa menggunakan pedang samurai akhirnya bisa menggunakannya. Denojin yang memang sudah mahir pada saat kecil karena bersama ayahnya ia pun terus menggali ilmu menggunakan pedang tersebut. Beberapa tahun kemudian, tepat keduanya berusia 15 ayahnya Ashakura meninggal karena sudah tua ditambah sakit yang menimpa ayahnya karena terlalu banyak bekerja dan tidak mempunyai waktu istirahat banyak. Pada saat itu Ashakura selalu menjaga ibunya dan terus belatih bersama sahabatnya. Pada usia 20 Ashakura dan Denojin sering membantu orang yang kesusahan,menolong orang lain,dan melakukan kebaikan-kebaikan terhadap orang lain dan melawan para penjahat yang ingin merusak desanya. Sehingga  Ashakura dan Denojin dikenal sebagai 'Legend of the samurai sword'.
Desa Iruno yang kini memiliki banyak masalah terutama  bidang ekonomi. Ekonomi pada desa Iruno semakin tidak terkendali membuat Orang tua dari kedua sahabat tersebut harus berjuang untuk memenuhi kebutuhannya. Seluruh warga desa Iruno resah dan gelisah karena semakin sempitnya lahan pekerjaan, karena desa di atur oleh pemerintah. Desa tersebut tidak terkendali karena adanya ketua pemerintah tersebut yang ingin menguasai semua desa dan ingin memakan semua hak para warga desa tersebut dengan menagih pajak. Pemerintah tersebut memiliki banyak prajuritnya, sedangkan prajurit itu di bayar dan dijamin akan perekonomiannya. Ashakura dan Denojin akhirnya menjadi pekerja pertambangan karena mereka melihat orang tua dan para kakek neneknya yang memang sudah tidak kuat untuk bekerja. Pada suatu hari ketika mereka sedang melakukan pekerjaan Denojin berkata,"Apa kau tidak lelah dengan pekerjaan ini ? sedangkan upah yang kita terima tidak seberapa dibandingkan para prajurit itu". Ashakura dengan tegap menjawab," aku tidak lelah dengan pekerjaan ini. Daripada aku menjadi prajurit tapi dalam pihak keburukan". Denojin pun menjawab," aku ingin menjadi prajurit untuk masa depanku". Mendengar perkataan tersebut Ashakura hanya terdiam dan memikirkan masa depan sahabatnya jika ia ikut menjadi prajurit.
Di suatu hari ada kedatangan para prajurit karena membutuhkan seorang kuat dan pemberani juga ahli dalam menguasai pedang samurainya. "Apa ada yang ingin menjadi seoranf prajurit?" tanya pemimpin prajurit. Tanpa nunggu waktu lama Denojin menjawab," iya saya ingin menjadi prajurit seperti kalian". Akhirnya Denojin dan beberapa orang lainnya di tes, kemudian mereka menjadi prajurit. Ashakura yang awalnya senang bisa bersama terus dengan sahabatnya sekarang terpisah karena keinginan sahabatnya untuk menjadi prajurit. Di pemerintah Denojin di uji coba karena kekuatan dan kemahiran dia dalam menguasai samurai ia mampu melawan prajurit hingga 10 prajurit sekalipun. Tidak lama kemudian Denojin di angkat untuk menjadi panglima prajurit tersebut. Suatu hari ada perintah dari seorang ketua untuk Denojin bahwa Denojinlah yang akan memimpin ketika menagih pajak ke desa-desa termasuk desa yang dulu iya tempati yaitu desa Iruno. Denojin karena keinginannya untuk menjadi ketua ia terus mengikuti perintah dari ketuanya walau itu harus melawan sahabatnya sendiri. "hey! mana uang pajak kalian! " para pajurit yang di pimpin oleh Denojin. "Maaf pak kami masih belum mempunyai uang untuk bayar pajak". Tidak nunggu waktu lama Denojin dan  para prajuritnya menghabisi warga tersebut. Ashakura mengetahui akan apa yang dilakukan sahabatnya. Dia sangat takut apa yang dia pikirkan itu terjadi. Namun dengan rasa kepercayaannya terhadap sahabatnya ia akan berpikiran positif. Para prajurit yang seringkali di cegah Ashakura ketika meminta uang pajak pada warga. "Kenapa kau meminta uang pajak pada orang miskin?! " tanya Ashakura dengan suara tegas. Prajurit berkata," Apa urusanmu nak? ini perintah dari ketua jika ada yang membantah maka akan kami bunuh". "Dasar manusia tidak punya hati!" suara keras Ashakura. Prajurit pun kesal dan marah terjadilah peperangan. Para prajurit kalah melawan Ashakura dan satu prajurit lolos melaporkan kejadian ini pada ketua. Informasi yang masuk ke telinga ketua akhirnya ketuapun memerintahkan Denojin dan para prajuritnya untuk membunuh Ashakura. Tidak menyangka akan hal itu, namun Denojin tetap melaksanakan tugasnya karena tahu bahwa rasa cinta yang sangat mendalam Ashakura terhadap ibunya hingga ia mempunyai strategi untuk menculik ibunya Ashakura. Di malam hari Denojinpun menculik ibu Ashakura yang sedang tertidur lelap. Keesokan harinya Ashakura kaget karena melihat ibunya tidak ada. Datanglah seorang warga yang memberi tahu bahwa ibunya di culik oleh para prajurit malam hari tidak lama kemudian ada surar datang dari Denojin, "Ku tangkap ibumu agar kau datang ke tempatku. Tenang aku akan menjaga ibumu dengan di ikat di tiang untuk menunggu kedatanganmu". Ashakura tak menunggu waktu lama datang menuju pemerintahan. Terjadilah peperangan antara keduanya dan Ashakura pun mampu membawa ibunya  pulang.
Ketua yang marah mendengar kegagalan Denojin membunuh Ashakura. "Dasar tidak becus! membunuhnya pun kau tidak bisa!". Denoji menjawab,"Ampun paduka, hamba akan membunuh Ashakura secepatnya paduka". Denojin menyiapkan seluruh pasukan untuk membunuh Ashakura. Denojinpun mengirim surat kembali ," Ku peringatkan padamu , datanglah esok hari ke pemerintahanku aku punya hadiah untukmu". Ashakura yang memang sebelumnya tahu Denojin akan membunuhnya akhirnya Ashakurapun menyiapkan seluruh warga yang ingin membantu ia untuk membasmi ketua pemerintah yang biadab tersebut.
Keesokan harinya Ashakura bersama warga yang membantunya datang menuju pemerintahan. "Wahai manusia tidak punya hai ! apa hadiah yang akan kau berikan padaku ?". Denojin menjawab,"Aku akan melawanmu hari ini juga!". Ashakura berkata,"Apa maksudmu?". Denojin pun menjawab dengan tegas,"Aku ingin membunuhmu!!". Terjadilah peperangan antara kedua belah pasukan. Ketua yang menyembunyikan dirinya, namun tetap diketahui oleh warga. Ashakura dan Denojin pun bertarung dengan sekuat tenaganya dengan seluruh kemampuan yang dikeluarkannya. Denojin terus menyerang Ashakura, namun karena Ashakura berlatih untuk melampaui kemampuan Denoji akhirnya Denojinpun kalah dan Ketua pun tertangkap. Kata-kata terkahir yang terucap oleh Denojin sahabat Ashakura dari kecil, yakni "Maafkan aku sahabatku. Aku telah salah dalam perjuanganku".  Pada saat itulah Ashakura di jadikan seorang Ketua dan di sebut sebagai 'Samurai Sword'.























  Cikarang Timur, 30 November 2017

  
        Ahmad Jalaludin